Seperti biasa, abah datang ke kantor lebih pagi dari yang lain. Menunggu lift, telah banyak pegawai BP Migas yang memang jam kantor-nya lebih pagi 1 1/2 jam dari kantor abah. Mungkin kebetulan masuk lift, hanya abah lelaki satu2nya, yang 7 cewek, kebanyakan ibu2.
Hmm…sebenarnya sudah dari dulu berpikiran tentang ini. Mengapa perusahaan tidak mendahulukan pria. atau para suami dalam merekrut pegawai? Mengapa ibu2 begitu bersemangat untuk mencari pekerjaan, padahal suaminya sudah mapan? Kenapa perusahaan lebih memilih wanita yang dalam 40 hari, dapat datang bulan selama seminggu, ato ibu2 yang jika cuti hamil 3 bulan, belum menyusui?
Menurut abah jawabannya karena budaya yang telah mempengaruhi pemikiran kita. Betapa digembar-gemborkannya emansipasi. Bagaimanapun pria dan wanita itu beda, tanggung jawab suami dan istri itu sangat beda. Seandainya wanita lebih mengalah, lebih tepat memahami posisinya, abah yakin bisa meminimalkan suami yang menganggur, suami yang harga dirinya jatuh karena tidak punya penghasilan.
Seandainya tidak semasive seperti sekarang, ya mungkin dari 100 pekerja hanya ada 1 wanita, itu masih bisa ditolerir, tapi sekarang, sepertinya wanita lebih gampang mencari pekerjaan. Atau untuk kondisi2 darurat masih bisa dimaklumi, seperti keadaan ekonomi yang sangat kurang. Atau jika bidang pekerjaannya malah bisa membuka lowongan pekerjaan, itu lebih bagus. Daripada harus bersaing dengan pria.

Post a Comment