Membaca suasana bioskop yang digambarakan oleh Ikal. Ketika bersama Arai dan Jimron menonton film “tak bermoral” Indonesia. Abah teringat ketika masa ujian ke perguruan tinggi.
Waktu itu, seorang teman abah diterima di STAN. Untuk merayakannya abah bersama teman, pergi ke bioskop di kampung abah. Garuda namanya. Kalo lewat, abah biasanya melihat poster film yang gak jauh beda dengan carik merahnya bioskop Ikal. Kalo tidak ya poster film India.
Abah pun sama dengan Ikal, tidak pernah nonton di bioskop. Kecuali film perjuangan, semisal Janur Kuning, Gerakan 30 September PKI, yang memang diwajibkan sekolah. Begitupun ketika di Bandung, Jakarta, hehehe tidak pernah ke bioskop…kasihan kan :p Apalagi di Bogor…tapi i love pisan Bogor
Kebetulan, waktu itu kami menonton film India…gubrak
Penontonnya itu loh…persis seperti yang ikal katakan. Ketika jagoannya datang…bergemuruhlah gedung bioskop. Ada yang tepuk tangan, pun ada yang bersiul2. Sebaliknya jika penjahat datang…teriakan huh pun menggema. Ketika adegan klimaks…banyak yang tiba2 menjadi komentator ulung. Oh iya…malah ada yang sampe melempar2 kacangnya. Hiks…gubrak gak seh.

So sang pemimpi telah memberikan romansa nostalgia abah ![]()

Post a Comment